BWS Semarang - Outbound Training http://bws-semarang.com BWS > Berpengalaman sejak 1996 mengelola outbound Management Training, Team Building, Outing, Gathering, Team Building, berseri dan berdurasi panjang di Jawa maupun kawasan Indonesia lainnya. Sun, 5 Sep 2010 19:22:03 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://bws-semarang.com http://bws-semarang.com/images/logo.gif BWS Semarang - Outbound Training Pendidikan di Alam : Belajar Juga Bermain, Bermain Juga Belajar http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27346 http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27346 Wed, 10 Mar 2010 04:22:10 +0700 Bee Wise & Smart Outbound Training http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27346 Caping

Oleh : Pindi Setiawan

Tak ada seorang pun Homo sapiens di dunia yang menyangkal, bahwa hanya dirinya sendirilah yang mampu melepaskan dari naluri, kecuali naluri bermain! Naluri bermain bagi Homo sapiens adalah sebuah proses belajar, yang walaupun sering disebut bukan bagian dari budaya, ternyata naluri primitif itu tetap merupakan proses belajar yang ampuh.

Wacana Eropa

Naluri bermain pernah “dihilangkan” dari bumi Eropa Barat (Barat), karena manusia Barat menganggap bahwa belajar adalah proses pencerahan-akal dari pikiran-pikiran saja. Pengagungan pikiran seperti itu menjebak manusia Barat, karena menganggap bahwa manusia adalah sumber dari segala nilai, sedang alam sebagai suatu instrumen. Manusia dilihat sebagai sesuatu di luar alam. Namun ketika Eropa Barat terpuruk akibat dua kali perang dunia, mereka mulai merasa ada yang yang kurang dari sistem belajar berdasarkan pikiran saja. Eropa membutuhkan bukan saja manusia yang pandai menggunakan pikiran, namun butuh pula manusia yang tangguh menghadapi “badai kesengsaraan”. Manusia yang mampu bangkit untuk membangun Eropa yang hancur karena perang. Bersedia mengambil keputusan-keputusan yang cepat dan tanggap untuk menciptakan perubahan yang mendasar.

Jadi muncul kebutuhan untuk membuat manusia yang utuh. Keutuhan itu dibutuhkan untuk mengubah, memutuskan, dan mencipta. Kemampuan itu tak bisa hanya dicapai oleh pikiran-pikiran. Untuk merubah sesuatu, ternyata dibutuhkan keihlasan bercermin pada diri sendiri, berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Sehingga dari pendekatan ini, kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh sekuat apa kemampuan berfikirnya, tetapi juga pada sedalam apa ia sanggup bercermin diri. Kemampuan bercermin diri akan membedakan setiap kualitas individu dengan individu lainnya. Metoda involusi ke dalam diri ini menyebabkan orang Barat mulai berfikir pada asal-usulnya pikiran. Pikiran-pikiran itu sebenarnya muncul dari hasil pengalaman seseorang.  Pengalaman itu muncul dari naluri dasar manusia akan rasa keingintahuan. Rasa keingintahuan paling primitif pada manusia terwujudkan dalam naluri yang disebut bermain.

Jean-Jacques Rousseau, 1802 dan John Dewey, 1936 mengangkat kembali teori belajar berdasarkan pengalaman diri sendiri. Namun, tidak semua pengalaman dapat begitu saja menjadi suatu proses belajar. Lalu pengalaman “bermain” yang seperti apa dapat menjadi proses belajar ? Lord Baden Powell , Kurt Hahn, dan Karl Rohnke memperkenalkan proses bermain sambil belajar secara metodik. Pada 1930-an, Powell memperkenalkan bermain dengan alam sekaligus belajar isi alam. Bermainnya Powell adalah sebuah konsep yang meminimalkan petualangan berbulan-bulan menjadi kegiatan akhir minggu. Kurt Hahn, 1941 mengenalkan konsep bermain melalui pengalaman bertualang di alam terbuka untuk pengembangan kepribadian manusia. Karl Rohnke, 1975 mengembangkan metoda perubahan kepribadian versus  tingkat petualangan yang dialami.

Mengapa melalui petualangan? Bisa jadi karena petualangan adalah tradisi lama orang Eropa dalam “bermain” mencari dunia-dunia baru. Semangat itu dapat diurut jauh sampai pada petualangan Ulyses dari petualangan Odiseus :

Come my friends. It’s not too late to seek a newer world.….To sail beyond sunset, and the baths. Of all the western stars, until I die….To strive, to seek, to find, and not to yield.

Dengan semangat inilah, selama 500 tahun terakhir, bangsa Eropa bertualang menjelajah dunia, dan mereka mencapainya dengan kerja keras serta pantang putus asa. Kurt Hahn dan kawan-kawannya mengembangkan teori pendidikan manusia melalui petualangan – dikenal dengan metoda Outward Bound (OB) – yang bertujuan membentuk manusia yang “bersih” baik secara perkembangan pikiran maupun kepribadiannya. Kurt Hahn, 1965, menyatakan “That combination of fear and pity cleanses the soul”

Dewasa ini, OB tidak lagi disebut lagi dengan istilah “Survival Training” atau “Pelatihan Kepribadian” untuk para pemuda. Bahkan istilah untuk pelatihan yang berjangka waktu pendek (3 hari, 5 hari, 2 minggu, 1 bulan), yaitu “stress-education ” juga ditinggalkan. Program OB berkembang ke arah penguatan dasar-dasar kemanusiaan (humaniora), dan menjadi model untuk pendidikan yang berorientasi pada gerak (fleksibility, action-oriented type of educations ) – dan sering juga disebut pendidikan berdasarkan pengalaman (experiental education) . Kata “pengalaman”, sekarang diterjemahkan ke dalam istilah perkembangan kepribadian (personal growth), pencerahan (renewal), dan pengembangan kepemimpinan (leadership development).

  Wacana Indonesia

Bila di Eropa naluri bermain dihilangkan demi keyakinannya pada pikiran, di Indonesia naluri bermain dihilangkan demi keyakinannya pada kekuasaan sentralisme : pusat, kota, orang kaya, ilmuwan, guru otoriter, sesepuh dan terkadang bahkan orang tuanya sendiri. Sentralisme tidak membutuhkan manusia yang mampu mengambil keputusan-keputusan yang cepat dan tanggap dalam menciptakan perubahan yang mendasar. Pemahaman didominasi oleh “kekuasaan” sentralisme, bukan oleh kebebasan individu. Kebebasan individu dibuat menjadi tabu, agar potensinya tidak tumbuh “menghalangi” kekuatan sentralisme. Belajar adalah suatu pemahaman kolektif yang didominasi oleh pandangan para pemuka sentralisme.

Pada suasana itu, belajar adalah menghafal, bukan pemahaman baru. Contoh dalam kegiatan alam terbuka : Pedoman Kegiatan Pramuka (belajar di alam-terbuka) bagi desa-desa Dayak menjadi tak optimal karena kegiatan di alam terbuka bagi anak Dayak bukanlah pada posisi ‘untuk dipelajari’, namun justru pada posisi ‘sebagai kenyataan yang ada’. Tak ada pemahaman ‘baru’ untuk anak-anak ‘hutan’ dari kegiatan Pramuka. Contoh yang paling ekstrim – karena mulai dari SD sampai Lemhamnas – adalah pemahaman tentang Pancasila yang harus benar-benar “sama” dengan pemahaman orang-orang pusat. Manusia Indonesia “dibangun” dengan suasana seperti itu : belajar dengan pemahaman tunggal dan resmi. Untuk itu sering kata belajar menyempit artinya, yaitu kegiatan menghafal suatu bacaan resmi. Oleh karena itu membaca menjadi suatu hal yang “menyebalkan”. Belajar sambil bermain tidaklah mungkin diterapkan, karena bermain berarti memahami dengan refleksi pengalaman pribadi.

Dalam wacana sentralisme kemampuan menghubungkan pelajaran dengan permasalahan nyata menjadi tak terasah. Ketumpulan itu menghasilkan manusia Indonesia yang tidak peka terhadap kenyataan hidup. Manusia Indonesia menjadi kurang mampu menjadi penyimak yang ‘lingas’. Contoh kasusnya : banyak mahasiswa yang sulit untuk “ganas” di kelas, anak SMU tidak “beringas” menyampaikan pendapatnya kepada guru. Karyawan pasif dalam meningkatkan produktivitas dirinya sendiri.

  Wacana  Masa Depan

Manusia Indonesia mempunyai dua kutub ekstrem, yaitu manusia kota dan desa. Manusia kota sering membuat jarak dengan kenyataan di masyarakat. Manusia desa sering berada pada posisi yang harus mempunyai pemahaman yang sama dengan orang kota. Namun kedua tipe manusia Indonesia itu, sama-sama dibesarkan dalam nuansa sentralisme. Hasilnya adalah manusia yang tidak peka dengan kenyataan hidup. Pepatah mengatakan : gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Primadi Tabrani, 1970, pakar kreativitas dari ITB, menyatakan pendidikan di Indonesia harus membuat “mata menjadi peka’” – kritis dalam melihat. Caranya adalah melatih secara intensif semua indra-indra dari mulai balita sampai umur 8 tahun. Agus Moelyono, 1995, pakar pendidikan-aktif untuk anak-anak, menyatakan bahwa anak-anak belajar dari pemahaman kehidupan melalui kepekaan melihat gejala alam. Melihat berarti berinteraksi – merasakan, mencium, mendengar dan melihat – alam dengan gejalanya.

Bermain bagi kedua pakar itu adalah konsep pengoptimalan panca indra. Panca indra yang optimal dapat meningkatkan kemampuan refleksi diri. Kemampuan berefleksi kemudian harus menjadi sebuah “aksi” terhadap kenyataan yang ada. Misalnya refleksi terhadap melihat laba-laba secara langsung akan di-aksi-kan dengan menggambar laba-laba yang rinci dan penuh bulu, bukan hanya laba-laba dengan garis-garis outline saja. Kemampuan refleksi mempunyai syarat utama, yaitu kemampuan menyimak secara penuh perhatian demi pemahaman yang utuh. Pemahaman utuh adalah awal untuk menjadi manusia seutuhnya.

Proses belajar seperti itu, tidak memerlukan lagi suatu teori. Misalnya belajar laba-laba, pemahaman bisa langsung terjadi di lapangan. Metoda ini tak lagi memisahkan antara belajar (teori) dengan bermain (praktek). Pengajar tidak lagi sebagai guru, namun lebih sebagai mitra berbagi kepekaan.

Pendidikan atau pelatihan untuk membentuk manusia Indonesia yang utuh, khususnya yang menggunakan media alam terbuka, tak perlu memulai dari nol. Kita dapat belajar pada konsep “kepribadian petualang” dari John Dewey,  Kurt Hahn, dan Karl Rohnke ; atau kita bisa menanyakan langsung tentang “kepribadian peka panca-indra”  pada Primadi dan Agus di Indonesia. Tujuan membentuk manusia utuh tentunya agar manusia Indonesia di masa depan mampu globally adapted : mampu beradaptasi dengan tantangan yang global, tidak hanya menjadi “pemain lokalan”.

]]>
http://bws-semarang.com/rss-comments/
Dibalik Kegiatan Petualangan.... http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27344 http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27344 Wed, 10 Mar 2010 04:13:25 +0700 Bee Wise & Smart Outbound Training http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=27344 Pamper Pole

Courage is doing what you're afraid to do.

There can be no courage unless you're scared.

-Eddi Rickenbacker-

Seorang eksekutif  muda tengah akan  memulai lintasan Comando Crawl (salah satu lintasan dalam High Ropes ) ketika dia berteriak dengan panik, ”Turunkan saya…saya tidak  mampu melakukan ini…saya tidak bisa bergerak lagi… cepat…saya tak bisa lagi…!” Wajahnya pucat pasi, badannya gemetaran. Saya mencoba menenangkannya    Pelan-pelan ia mencoba melakukan apa yang diinstruksikan,  mulai mengatur posisi tubuh dan bergerak.  Dua jempol saya acungkan untuk keputusan dan langkahnya “Bagus…bagus..ya..terus…!.“ teriak saya dan teman-temannya dari bawah, memantapkan gerakan perpindahaannya. “Tak sangka saya bisa menyelesaikan semua ini….” ujarnya lega, saat ia berhasil menyelesaikan seluruh lintasan High Ropes. dengan menyuruhnya untuk relaks, menghirup napas dalam dan pelan sambil mendemostrasikan instruksi saya. Teman-temannya di bawah pun tak ketinggalan mensupport dan menenangkannya.

Hubungan antara pikiran (baca=jiwa) dan apa yang terjadi dengan tubuh  sangat erat. Semua yang dihasilkan oleh pikiran kita menimbulkan  reaksi kimia yang akan termanifestasikan  dalam  setiap gerakan tubuh kita, setiap yang terjadi dengan kita. Mari kita menganalisa contoh kasus yang saya ceritakan di atas.  Ketika kita mengalami ketegangan atau ketakutan kita menjadi kehilangan kontrol atas diri kita, otomatis gerakan atau sikap tubuh pun menjadi tak terkontrol. Di sisi yang lain,    refleks yang kita lakukan, sesuatu yang dikerjakan tanpa memerlukan kontrol kesadaran kita. Saat kita menarik napas panjang dan dalam, pikiran  mencoba mengarahkan “aktivitas” bernapas ke alam kesadaran kita.    sebetulnya kita pun tengah   mengontrol, mengarahkan dan berkonsentrasi pada sikap dan gerakan tubuh untuk mengatasi tekanan/masalah.  menarik napas adalah “aktivitas” Pada saat yang sama

Hal ini juga yang menjadi  arah dan target yang dijabarkan dalam materi-materi Adventure Education . Adventure (petualangan) diyakini sebagai sarana untuk memelihara kesadaran kita sebagai jembatan untuk memahami diri kita, tubuh dan martabat kemanusiaan kita. Asumsi dasar ini mengilhami Kurt Hahn untuk menciptakan sekolah Outward Bound. Dia mempelajari fenomena survival yang terjadi pada pelaut-pelaut pada  jaman Perang Dunia ke-II. Fenomena menarik yang terjadi pada saat itu adalah adalah bahwa angka kematian pelaut muda lebih tinggi daripada angka kematian pelaut tua, semangat hidup pelaut tua lebih tinggi daripada pelaut muda. Para pelaut tua telah tertempa dengan berbagai cobaan hidup,mereka menarik pelajaran bahwa setiap krisis bagaimana  pun beratnya bisa diatasi. Sementara para pelaut muda cenderung untuk menyerah pada keadaan, sebab pikiran mereka dilingkupi oleh keyakinan bahwa kemampuan bertahan mereka tidak sekuat para pelaut tua.

Dari pengamatan  yang dilakukan tersebut, Hahn menemukan  bahwa  jalan yang paling dibutuhkan oleh seseorang untuk bisa menghadapi setiap tantangan adalah “kesadaran dan kontrol ” terhadap diri dan lingkungan. Kedua hal ini inilah yang dimunculkan dalam sekolah berbasis  petualangan di alam terbuka yang ia dirikan pada tahun 1946. Pada saat berpetualang  partisipan dihadapkan pada bahaya atau resiko yang berasal dari  ketidakpastian  yang mau tak mau harus dihadapi. Dalam proses mengatasi tantangan tersebut, partisipan berproses dengan dirinya maupun lingkungannya (alam dan orang lain). Kesediaan dan kemampuan partisipan untuk menetapkan satu goal untuk  diri pribadi, untuk  lingkungan (=grup), serta untuk grup sebagai  grup merupakan satu kekuatan yang mempunyai efek yang besar pada tubuh dan merangsang semangat dalam pencapaian hasil yang maksimal. Pengalaman-pengalaman untuk menghadapi ketidakpastian,bahaya dan resiko yang diimplemantasikan dalam bentuk permainan-permainan dan petualangan yang menantang tersebut efektif  sebagai alat untuk mengasah kesadaran  pribadi dan kelompok.

Pengalaman-pengalaman pribadi  yang didapat melalui kegiatan-kegiatan tersebut kemudian dibagikan kepada kelompok, untuk kemudian dianalisa dan dianalogikan ke kehidupan pribadi maupun dunia kerja mereka sehari-hari. Melalui proses diskusi (debrief) ini peserta diajak untuk mendalami filosopi dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aktivitas. Di sinilah muncul berbagai macam pemahaman  dan kesadaran baru, misalnya, dalam kegiatan High Ropes muncul kesadaran baru bahwa ketika berhadapan dengan suatu ketakutan yang  kita butuhkan adalah konsentrasi, ketenangan, motivasi diri, keuletan dan daya tahan untuk mengatasi ketakutan serta  support tim.

]]>
http://bws-semarang.com/rss-comments/
Sekilas Experiential Learning Cycle http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=26490 http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=26490 Wed, 3 Mar 2010 07:45:55 +0700 Bee Wise & Smart Outbound Training http://bws-semarang.com/?pg=articles&article=26490 Rakit 2

Later belakang

Beberapa metode klasik dalam belajar.

  1. Kuliah / ceramah : Menyampaikan informasi atau ide-ide baru, mengintroduksikan topik baru, untuk mendefinisikan dan menghubungkan dan  menggabungkan konsep-konsep baru kepada peserta.
  2. Demontrasi : Penyampain sebuah materi dalam menjalankan tugas, dengan sebuah peragaan,gambar atau penjelasan.
  3. Brainstrorming : Kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah, ide dan pendapat diharapkan muncul dari seluruh anggota kelompok, tanggapan negatif menyebabkan proses kreativitas terhenti dan kering, Volume (isi,bobot) dan variasi ide adalah kunci utama.
  4. Diskusi kelompok : Seluruh anggota kelompok berpartisipasai bersama dalam sebuah diskusi dan pertukaran ide, informasi dan pengalaman, permasalahan lebih luas.
  5. Studi Kasus : Suatu masalah atau kasus yang berhubungan sasaran ditampilkan dan diteruskan dengan mendiskusikan masalah yang dipimpin oleh trainer. Trainer bertanggung jawab atas jalannya diskusi, merangkum dan memperjelas isue-isue yang terjadi.

Apa itu ELC  ????

Sebuah proses belajar yang lebih memberikan kesempatan bagi peserta, untuk mengalami sendiri pelajaran (education) yang diberikan. Sehingga pengalaman menjadi bekal dalam menerima pesan materi yang ingin disampaikan.

Proses belajar ELC merupakan proses belajar terstruktur, saling keterkaitan dari pengalaman pembelajaran yang telah dialami dengan yang akan dialami.

Metode ELC yang diterapkan dalam pelatihan lebih menitik beratkan pada pelatihan pengembangan pribadi, metode ELC penekanan atau penerapan belajar berdasarkan respon individu dalam merefleksikan dirinya melalui pengalaman yang dialami dan dirasakan langsung.

Perilaku yang terjadi dalam proses belajar (action) menjadikan hikmah bagi peserta dan diharapkan menjadi pemahaman (nilai-nilai baru).

Perbedaan ke lima metode diatas dengan metode ELC adalah kelima metode diatas pemahaman dan pengetahuannya diberikan terlebih dahulu sedangkan  metode ELC pemahaman dan nilai-nilai baru didapat setelah pengalaman terlewati (dirasakan).

Metode ELC bukan hanya mengandalkan Intelegensi (IQ), atau logika tapi melibatkan Emosi (EQ), Imajinasi dan Fisik (Psikomotorik) sehingga mampu mengahasilkan kualitas intelektual dari peserta.

Kunci dari keberhasilan metoda ELC adalah pada proses de-breaf (penggalian) dari perilaku (ras a) yang muncul selama action berlangsung.

Diharapkan dari proses belajar ELC adalah Pengalaman menjadi sebuah pema haman (nilai baru), secara sekilas minimal muncul dalam hati peserta kata Ooooh ! !!! dan kata “Ternyata” dari diri perserta secara pribadi (awareness).

Pemahaman dan nilai-nilai baru yang didapat dari pengalaman akan maksimal dan sangat dipengaruhi oleh kualitas De-breaf ( penggalian makna) sang Fasilitator.

Sebuah pelatihan yang utuh, aktifitas setiap tahapan memunculkan perilaku peserta saling berkaitan dan berkesinambungan, sehingga menjadi sebuah pemahaman (nilai-nilai baru) yang utuh diakhir pelatihan.

Kegagalan metode ELC dalam sebuah pelatihan adalah  :

1.   Tidak saling terkait/berhubungan antara pemahaman (nilai baru) yang didapat dari aktifitas (action) yang dialami dengan aktifitas (action) yang akan dialami pada aktifitas (action) berikutnya.

2.    Serta kurang tepat dan tajam dalam proses penggalian (De-breaf) mengenai rasa, sikap dan perilaku individu dalam merespon stimulus (action).

ELC salah satu metoda pelatihan yang cukup efektif bagi orang dewasa dan cukup tepat untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang lebih baik dengan hasil sudut pandang yang lebih positif dan terasa.

]]>
http://bws-semarang.com/rss-comments/