learning to self and team in which they part
building confidence
be able to learn and to take effective action
be worthy as individu members of group
how to describe
how to understand
how to predicting
how to manage
human behaviour
within organization
to reach a goal
Oleh : Pindi Setiawan
Tak ada seorang pun Homo sapiens di dunia yang menyangkal, bahwa hanya dirinya sendirilah yang mampu melepaskan dari naluri, kecuali naluri bermain! Naluri bermain bagi Homo sapiens adalah sebuah proses belajar, yang walaupun sering disebut bukan bagian dari budaya, ternyata naluri primitif itu tetap merupakan proses belajar yang ampuh.
Wacana Eropa
Naluri bermain pernah “dihilangkan” dari bumi Eropa Barat (Barat), karena manusia Barat menganggap bahwa belajar adalah proses pencerahan-akal dari pikiran-pikiran saja. Pengagungan pikiran seperti itu menjebak manusia Barat, karena menganggap bahwa manusia adalah sumber dari segala nilai, sedang alam sebagai suatu instrumen. Manusia dilihat sebagai sesuatu di luar alam. Namun ketika Eropa Barat terpuruk akibat dua kali perang dunia, mereka mulai merasa ada yang yang kurang dari sistem belajar berdasarkan pikiran saja. Eropa membutuhkan bukan saja manusia yang pandai menggunakan pikiran, namun butuh pula manusia yang tangguh menghadapi “badai kesengsaraan”. Manusia yang mampu bangkit untuk membangun Eropa yang hancur karena perang. Bersedia mengambil keputusan-keputusan yang cepat dan tanggap untuk menciptakan perubahan yang mendasar.
Jadi muncul kebutuhan untuk membuat manusia yang utuh. Keutuhan itu dibutuhkan untuk mengubah, memutuskan, dan mencipta. Kemampuan itu tak bisa hanya dicapai oleh pikiran-pikiran. Untuk merubah sesuatu, ternyata dibutuhkan keihlasan bercermin pada diri sendiri, berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Sehingga dari pendekatan ini, kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh sekuat apa kemampuan berfikirnya, tetapi juga pada sedalam apa ia sanggup bercermin diri. Kemampuan bercermin diri akan membedakan setiap kualitas individu dengan individu lainnya. Metoda involusi ke dalam diri ini menyebabkan orang Barat mulai berfikir pada asal-usulnya pikiran. Pikiran-pikiran itu sebenarnya muncul dari hasil pengalaman seseorang. Pengalaman itu muncul dari naluri dasar manusia akan rasa keingintahuan. Rasa keingintahuan paling primitif pada manusia terwujudkan dalam naluri yang disebut bermain.
Jean-Jacques Rousseau, 1802 dan John Dewey, 1936 mengangkat kembali teori belajar berdasarkan pengalaman diri sendiri. Namun, tidak semua pengalaman dapat begitu saja menjadi suatu proses belajar. Lalu pengalaman “bermain” yang seperti apa dapat menjadi proses belajar ? Lord Baden Powell , Kurt Hahn, dan Karl Rohnke memperkenalkan proses bermain sambil belajar secara metodik. Pada 1930-an, Powell memperkenalkan bermain dengan alam sekaligus belajar isi alam. Bermainnya Powell adalah sebuah konsep yang meminimalkan petualangan berbulan-bulan menjadi kegiatan akhir minggu. Kurt Hahn, 1941 mengenalkan konsep bermain melalui pengalaman bertualang di alam terbuka untuk pengembangan kepribadian manusia. Karl Rohnke, 1975 mengembangkan metoda perubahan kepribadian versus tingkat petualangan yang dialami.
Mengapa melalui petualangan? Bisa jadi karena petualangan adalah tradisi lama orang Eropa dalam “bermain” mencari dunia-dunia baru. Semangat itu dapat diurut jauh sampai pada petualangan Ulyses dari petualangan Odiseus :
Come my friends. It’s not too late to seek a newer world.….To sail beyond sunset, and the baths. Of all the western stars, until I die….To strive, to seek, to find, and not to yield.
Dengan semangat inilah, selama 500 tahun terakhir, bangsa Eropa bertualang menjelajah dunia, dan mereka mencapainya dengan kerja keras serta pantang putus asa. Kurt Hahn dan kawan-kawannya mengembangkan teori pendidikan manusia melalui petualangan – dikenal dengan metoda Outward Bound (OB) – yang bertujuan membentuk manusia yang “bersih” baik secara perkembangan pikiran maupun kepribadiannya. Kurt Hahn, 1965, menyatakan “That combination of fear and pity cleanses the soul”
Dewasa ini, OB tidak lagi disebut lagi dengan istilah “Survival Training” atau “Pelatihan Kepribadian” untuk para pemuda. Bahkan istilah untuk pelatihan yang berjangka waktu pendek (3 hari, 5 hari, 2 minggu, 1 bulan), yaitu “stress-education ” juga ditinggalkan. Program OB berkembang ke arah penguatan dasar-dasar kemanusiaan (humaniora), dan menjadi model untuk pendidikan yang berorientasi pada gerak (fleksibility, action-oriented type of educations ) – dan sering juga disebut pendidikan berdasarkan pengalaman (experiental education) . Kata “pengalaman”, sekarang diterjemahkan ke dalam istilah perkembangan kepribadian (personal growth), pencerahan (renewal), dan pengembangan kepemimpinan (leadership development).
Wacana Indonesia
Bila di Eropa naluri bermain dihilangkan demi keyakinannya pada pikiran, di Indonesia naluri bermain dihilangkan demi keyakinannya pada kekuasaan sentralisme : pusat, kota, orang kaya, ilmuwan, guru otoriter, sesepuh dan terkadang bahkan orang tuanya sendiri. Sentralisme tidak membutuhkan manusia yang mampu mengambil keputusan-keputusan yang cepat dan tanggap dalam menciptakan perubahan yang mendasar. Pemahaman didominasi oleh “kekuasaan” sentralisme, bukan oleh kebebasan individu. Kebebasan individu dibuat menjadi tabu, agar potensinya tidak tumbuh “menghalangi” kekuatan sentralisme. Belajar adalah suatu pemahaman kolektif yang didominasi oleh pandangan para pemuka sentralisme.
Pada suasana itu, belajar adalah menghafal, bukan pemahaman baru. Contoh dalam kegiatan alam terbuka : Pedoman Kegiatan Pramuka (belajar di alam-terbuka) bagi desa-desa Dayak menjadi tak optimal karena kegiatan di alam terbuka bagi anak Dayak bukanlah pada posisi ‘untuk dipelajari’, namun justru pada posisi ‘sebagai kenyataan yang ada’. Tak ada pemahaman ‘baru’ untuk anak-anak ‘hutan’ dari kegiatan Pramuka. Contoh yang paling ekstrim – karena mulai dari SD sampai Lemhamnas – adalah pemahaman tentang Pancasila yang harus benar-benar “sama” dengan pemahaman orang-orang pusat. Manusia Indonesia “dibangun” dengan suasana seperti itu : belajar dengan pemahaman tunggal dan resmi. Untuk itu sering kata belajar menyempit artinya, yaitu kegiatan menghafal suatu bacaan resmi. Oleh karena itu membaca menjadi suatu hal yang “menyebalkan”. Belajar sambil bermain tidaklah mungkin diterapkan, karena bermain berarti memahami dengan refleksi pengalaman pribadi.
Dalam wacana sentralisme kemampuan menghubungkan pelajaran dengan permasalahan nyata menjadi tak terasah. Ketumpulan itu menghasilkan manusia Indonesia yang tidak peka terhadap kenyataan hidup. Manusia Indonesia menjadi kurang mampu menjadi penyimak yang ‘lingas’. Contoh kasusnya : banyak mahasiswa yang sulit untuk “ganas” di kelas, anak SMU tidak “beringas” menyampaikan pendapatnya kepada guru. Karyawan pasif dalam meningkatkan produktivitas dirinya sendiri.
Wacana Masa Depan
Manusia Indonesia mempunyai dua kutub ekstrem, yaitu manusia kota dan desa. Manusia kota sering membuat jarak dengan kenyataan di masyarakat. Manusia desa sering berada pada posisi yang harus mempunyai pemahaman yang sama dengan orang kota. Namun kedua tipe manusia Indonesia itu, sama-sama dibesarkan dalam nuansa sentralisme. Hasilnya adalah manusia yang tidak peka dengan kenyataan hidup. Pepatah mengatakan : gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.
Primadi Tabrani, 1970, pakar kreativitas dari ITB, menyatakan pendidikan di Indonesia harus membuat “mata menjadi peka’” – kritis dalam melihat. Caranya adalah melatih secara intensif semua indra-indra dari mulai balita sampai umur 8 tahun. Agus Moelyono, 1995, pakar pendidikan-aktif untuk anak-anak, menyatakan bahwa anak-anak belajar dari pemahaman kehidupan melalui kepekaan melihat gejala alam. Melihat berarti berinteraksi – merasakan, mencium, mendengar dan melihat – alam dengan gejalanya.
Bermain bagi kedua pakar itu adalah konsep pengoptimalan panca indra. Panca indra yang optimal dapat meningkatkan kemampuan refleksi diri. Kemampuan berefleksi kemudian harus menjadi sebuah “aksi” terhadap kenyataan yang ada. Misalnya refleksi terhadap melihat laba-laba secara langsung akan di-aksi-kan dengan menggambar laba-laba yang rinci dan penuh bulu, bukan hanya laba-laba dengan garis-garis outline saja. Kemampuan refleksi mempunyai syarat utama, yaitu kemampuan menyimak secara penuh perhatian demi pemahaman yang utuh. Pemahaman utuh adalah awal untuk menjadi manusia seutuhnya.
Proses belajar seperti itu, tidak memerlukan lagi suatu teori. Misalnya belajar laba-laba, pemahaman bisa langsung terjadi di lapangan. Metoda ini tak lagi memisahkan antara belajar (teori) dengan bermain (praktek). Pengajar tidak lagi sebagai guru, namun lebih sebagai mitra berbagi kepekaan.
Pendidikan atau pelatihan untuk membentuk manusia Indonesia yang utuh, khususnya yang menggunakan media alam terbuka, tak perlu memulai dari nol. Kita dapat belajar pada konsep “kepribadian petualang” dari John Dewey, Kurt Hahn, dan Karl Rohnke ; atau kita bisa menanyakan langsung tentang “kepribadian peka panca-indra” pada Primadi dan Agus di Indonesia. Tujuan membentuk manusia utuh tentunya agar manusia Indonesia di masa depan mampu globally adapted : mampu beradaptasi dengan tantangan yang global, tidak hanya menjadi “pemain lokalan”.
Copyright © 2010 bws semarang · All Rights Reserved
Powered by sitekno