learning to self and team in which they part
building confidence
be able to learn and to take effective action
be worthy as individu members of group
how to describe
how to understand
how to predicting
how to manage
human behaviour
within organization
to reach a goal
Courage is doing what you're afraid to do.
There can be no courage unless you're scared.
-Eddi Rickenbacker-
Seorang eksekutif muda tengah akan memulai lintasan Comando Crawl (salah satu lintasan dalam High Ropes ) ketika dia berteriak dengan panik, ”Turunkan saya…saya tidak mampu melakukan ini…saya tidak bisa bergerak lagi… cepat…saya tak bisa lagi…!” Wajahnya pucat pasi, badannya gemetaran. Saya mencoba menenangkannya Pelan-pelan ia mencoba melakukan apa yang diinstruksikan, mulai mengatur posisi tubuh dan bergerak. Dua jempol saya acungkan untuk keputusan dan langkahnya “Bagus…bagus..ya..terus…!.“ teriak saya dan teman-temannya dari bawah, memantapkan gerakan perpindahaannya. “Tak sangka saya bisa menyelesaikan semua ini….” ujarnya lega, saat ia berhasil menyelesaikan seluruh lintasan High Ropes. dengan menyuruhnya untuk relaks, menghirup napas dalam dan pelan sambil mendemostrasikan instruksi saya. Teman-temannya di bawah pun tak ketinggalan mensupport dan menenangkannya.
Hubungan antara pikiran (baca=jiwa) dan apa yang terjadi dengan tubuh sangat erat. Semua yang dihasilkan oleh pikiran kita menimbulkan reaksi kimia yang akan termanifestasikan dalam setiap gerakan tubuh kita, setiap yang terjadi dengan kita. Mari kita menganalisa contoh kasus yang saya ceritakan di atas. Ketika kita mengalami ketegangan atau ketakutan kita menjadi kehilangan kontrol atas diri kita, otomatis gerakan atau sikap tubuh pun menjadi tak terkontrol. Di sisi yang lain, refleks yang kita lakukan, sesuatu yang dikerjakan tanpa memerlukan kontrol kesadaran kita. Saat kita menarik napas panjang dan dalam, pikiran mencoba mengarahkan “aktivitas” bernapas ke alam kesadaran kita. sebetulnya kita pun tengah mengontrol, mengarahkan dan berkonsentrasi pada sikap dan gerakan tubuh untuk mengatasi tekanan/masalah. menarik napas adalah “aktivitas” Pada saat yang sama
Hal ini juga yang menjadi arah dan target yang dijabarkan dalam materi-materi Adventure Education . Adventure (petualangan) diyakini sebagai sarana untuk memelihara kesadaran kita sebagai jembatan untuk memahami diri kita, tubuh dan martabat kemanusiaan kita. Asumsi dasar ini mengilhami Kurt Hahn untuk menciptakan sekolah Outward Bound. Dia mempelajari fenomena survival yang terjadi pada pelaut-pelaut pada jaman Perang Dunia ke-II. Fenomena menarik yang terjadi pada saat itu adalah adalah bahwa angka kematian pelaut muda lebih tinggi daripada angka kematian pelaut tua, semangat hidup pelaut tua lebih tinggi daripada pelaut muda. Para pelaut tua telah tertempa dengan berbagai cobaan hidup,mereka menarik pelajaran bahwa setiap krisis bagaimana pun beratnya bisa diatasi. Sementara para pelaut muda cenderung untuk menyerah pada keadaan, sebab pikiran mereka dilingkupi oleh keyakinan bahwa kemampuan bertahan mereka tidak sekuat para pelaut tua.
Dari pengamatan yang dilakukan tersebut, Hahn menemukan bahwa jalan yang paling dibutuhkan oleh seseorang untuk bisa menghadapi setiap tantangan adalah “kesadaran dan kontrol ” terhadap diri dan lingkungan. Kedua hal ini inilah yang dimunculkan dalam sekolah berbasis petualangan di alam terbuka yang ia dirikan pada tahun 1946. Pada saat berpetualang partisipan dihadapkan pada bahaya atau resiko yang berasal dari ketidakpastian yang mau tak mau harus dihadapi. Dalam proses mengatasi tantangan tersebut, partisipan berproses dengan dirinya maupun lingkungannya (alam dan orang lain). Kesediaan dan kemampuan partisipan untuk menetapkan satu goal untuk diri pribadi, untuk lingkungan (=grup), serta untuk grup sebagai grup merupakan satu kekuatan yang mempunyai efek yang besar pada tubuh dan merangsang semangat dalam pencapaian hasil yang maksimal. Pengalaman-pengalaman untuk menghadapi ketidakpastian,bahaya dan resiko yang diimplemantasikan dalam bentuk permainan-permainan dan petualangan yang menantang tersebut efektif sebagai alat untuk mengasah kesadaran pribadi dan kelompok.
Pengalaman-pengalaman pribadi yang didapat melalui kegiatan-kegiatan tersebut kemudian dibagikan kepada kelompok, untuk kemudian dianalisa dan dianalogikan ke kehidupan pribadi maupun dunia kerja mereka sehari-hari. Melalui proses diskusi (debrief) ini peserta diajak untuk mendalami filosopi dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aktivitas. Di sinilah muncul berbagai macam pemahaman dan kesadaran baru, misalnya, dalam kegiatan High Ropes muncul kesadaran baru bahwa ketika berhadapan dengan suatu ketakutan yang kita butuhkan adalah konsentrasi, ketenangan, motivasi diri, keuletan dan daya tahan untuk mengatasi ketakutan serta support tim.
Copyright © 2010 bws semarang · All Rights Reserved
Powered by sitekno