logo
image

Bee Wise & Smart

SLINK
Bee Wise & Smart

Outdoor Training

learning to self and team in which they part

building confidence

be able to learn and to take effective action

be worthy as individu members of group

how to describe

how to understand

how to predicting

how to manage

human behaviour

within organization

to reach a goal

Visitor

RSS Feed

Sekilas Experiential Learning Cycle

Rakit 2

Later belakang

Beberapa metode klasik dalam belajar.

  1. Kuliah / ceramah : Menyampaikan informasi atau ide-ide baru, mengintroduksikan topik baru, untuk mendefinisikan dan menghubungkan dan  menggabungkan konsep-konsep baru kepada peserta.
  2. Demontrasi : Penyampain sebuah materi dalam menjalankan tugas, dengan sebuah peragaan,gambar atau penjelasan.
  3. Brainstrorming : Kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah, ide dan pendapat diharapkan muncul dari seluruh anggota kelompok, tanggapan negatif menyebabkan proses kreativitas terhenti dan kering, Volume (isi,bobot) dan variasi ide adalah kunci utama.
  4. Diskusi kelompok : Seluruh anggota kelompok berpartisipasai bersama dalam sebuah diskusi dan pertukaran ide, informasi dan pengalaman, permasalahan lebih luas.
  5. Studi Kasus : Suatu masalah atau kasus yang berhubungan sasaran ditampilkan dan diteruskan dengan mendiskusikan masalah yang dipimpin oleh trainer. Trainer bertanggung jawab atas jalannya diskusi, merangkum dan memperjelas isue-isue yang terjadi.

Apa itu ELC  ????

Sebuah proses belajar yang lebih memberikan kesempatan bagi peserta, untuk mengalami sendiri pelajaran (education) yang diberikan. Sehingga pengalaman menjadi bekal dalam menerima pesan materi yang ingin disampaikan.

Proses belajar ELC merupakan proses belajar terstruktur, saling keterkaitan dari pengalaman pembelajaran yang telah dialami dengan yang akan dialami.

Metode ELC yang diterapkan dalam pelatihan lebih menitik beratkan pada pelatihan pengembangan pribadi, metode ELC penekanan atau penerapan belajar berdasarkan respon individu dalam merefleksikan dirinya melalui pengalaman yang dialami dan dirasakan langsung.

Perilaku yang terjadi dalam proses belajar (action) menjadikan hikmah bagi peserta dan diharapkan menjadi pemahaman (nilai-nilai baru).

Perbedaan ke lima metode diatas dengan metode ELC adalah kelima metode diatas pemahaman dan pengetahuannya diberikan terlebih dahulu sedangkan  metode ELC pemahaman dan nilai-nilai baru didapat setelah pengalaman terlewati (dirasakan).

Metode ELC bukan hanya mengandalkan Intelegensi (IQ), atau logika tapi melibatkan Emosi (EQ), Imajinasi dan Fisik (Psikomotorik) sehingga mampu mengahasilkan kualitas intelektual dari peserta.

Kunci dari keberhasilan metoda ELC adalah pada proses de-breaf (penggalian) dari perilaku (ras a) yang muncul selama action berlangsung.

Diharapkan dari proses belajar ELC adalah Pengalaman menjadi sebuah pema haman (nilai baru), secara sekilas minimal muncul dalam hati peserta kata Ooooh ! !!! dan kata “Ternyata” dari diri perserta secara pribadi (awareness).

Pemahaman dan nilai-nilai baru yang didapat dari pengalaman akan maksimal dan sangat dipengaruhi oleh kualitas De-breaf ( penggalian makna) sang Fasilitator.

Sebuah pelatihan yang utuh, aktifitas setiap tahapan memunculkan perilaku peserta saling berkaitan dan berkesinambungan, sehingga menjadi sebuah pemahaman (nilai-nilai baru) yang utuh diakhir pelatihan.

Kegagalan metode ELC dalam sebuah pelatihan adalah  :

1.   Tidak saling terkait/berhubungan antara pemahaman (nilai baru) yang didapat dari aktifitas (action) yang dialami dengan aktifitas (action) yang akan dialami pada aktifitas (action) berikutnya.

2.    Serta kurang tepat dan tajam dalam proses penggalian (De-breaf) mengenai rasa, sikap dan perilaku individu dalam merespon stimulus (action).

ELC salah satu metoda pelatihan yang cukup efektif bagi orang dewasa dan cukup tepat untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang lebih baik dengan hasil sudut pandang yang lebih positif dan terasa.

Copyright © 2010 bws semarang · All Rights Reserved



Powered by sitekno